Pilihan Skincare Natural Organik untuk Kulit Sensitif dengan Dermatitis

Apakah kulit Kamu memang sensitif atau menjadi sensitif karena treatment yang salah? Kita cek dulu yuk apa sih yang sering kita sebut kulit sensitif. Biasanya kita merasa kulit kita sensitif saat sering merasa kulit sering perih, kemerahan, terbakar saat terkena sinar matahari ataupun gampang iritasi.

Baca juga : Penanganan Luka Dermatitis Dishidrotik (Eksim Pompholyx) dengan Plester Hidrokoloid

Apa benar kulit kamu sensitif ?

Berdasarkan Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology (JEADV), kulit sensitif adalah kondisi saat kulit terasa perih, kering, kesemutan, nyeri, terbakar, bersisik, beruntusan, gatal-gatal saat terkena rangsangan. Pada kulit normal, rangsangan ini biasanya tidak menyebabkan kondisi seperti yang disebutkan tadi. Misal pada kulit normal saat terkena sinar matahari tidak akan tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus. Intinya reaksi yang ditimbulkan kulit menjadi berlebihan yang biasa disebut iritasi.

Sumber : verywellhealth.com

Kulit sensitif ini sering memburuk kondisinya akibat faktor lingkungan. Kulit sensitif bisa terjadi pada orang dengan kulit normal atau merupakan gejala dari orang yang memiliki penyakit seperti rosacea, dermatitis atopik, eksim atau psoriasis. Tidak hanya pada wajah, kulit sensitif bisa terjadi pada bagian tubuh lainnya dan bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa. 

Apa penyebab kulit sensitif ?


Pemicu kulit sensitif setiap orang bisa berbeda-beda. Aku yang sensitif terhadap bahan pembersih yang keras seperti pembersih toilet atau detergen bisa jadi berbeda dengan pemicu kulit sensitif pada orang lain. Beberapa penyebab kulit sensitif adalah :
  1. Memiliki masalah kulit atau alergi seperti dermatitis, eksim, dan sebagainya
  2. Bahan kimia tertentu pada personal care, detergen, parfum, sabun atau produk pabrikan lainnya
  3. Kulit yang terlalu kering atau menipis, salah satunya karena over eksfoliasi
  4. Perubahan cuaca atau suhu ekstrim
  5. Faktor genetik alias keturunan dari orangtua
  6. Stres, perubahan hormon
  7. Gaya hidup tidak seimbang
  8. Polusi lingkungan, paparan EMF
  9. Prosedur medis
  10. Kelemahan organ paru karena kulit adalah representasi organ paru dalam ilmu pengobatan klasik

Krim steroid awal kulit sensitifku

Kulitku mulai terasa sensitif sejak menggunakan skincare dari dokter kulit. Aku jadi sering mengalami redness yaitu kulit memerah dan terasa agak perih setiap terkena sinar matahari. Ternyata setelah mencari tahu, skincare yang aku pakai mengandung bahan steroid sehingga permukaan kulitku jadi menipis dan sensitif. Dilansir dari pom.go.id, steroid bisa memberi efek memutihkan dan glowing tapi memiliki efek samping berupa kulit tipis, pembuluh darah kelihatan, kulit sensitif, wajah memerah, flek yang tidak bisa hilang total. Jika pemakaian dihentikan, jerawat akan muncul dan kulit memerah.

Sumber : health.detik.com

Sebelum menggunakan produk dokter kulit tersebut, kulitku termasuk jenis kulit normal. Aku cuma menggunakan skincare yang mudah ditemukan di supermarket. Tidak pernah ada masalah berarti, jerawat pun hampir nggak ada. Lalu aku mencoba untuk menggunakan skincare dokter demi kulit glowing tanpa paham ilmu skincare sama sekali lalu berujung jadi kulit sensitif.

Aku tidak mengatakan menggunakan cream dokter kulit dari klinik kecantikan itu nggak baik. Untuk orang-orang yang memang membutuhkan treatment dari jerawat yang parah misalnya, pasti akan sangat membantu. Tapi untuk aku yang sebenarnya nggak memiliki masalah kulit apapun, pilihan untuk menggunakan cream dokter sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Tips dariku, selalu tanyakan bahan apa saja yang terkandung dalam produk yang Kamu pakai. Kamu boleh banget dan berhak tahu kok :)

Dari skincare menjadi psoriasis

Sekitar tahun 2013 hingga 2017 aku menggunakan cream dokter. Sampai akhirnya aku memutuskan stop menggunakannya. Salah satu alasan terbesarnya adalah masalah kehamilan pada anak pertamaku yang kuduga karena kandungan bahan kimia pada produk skincare yang aku pakai. Temanku yang sesama analis laboratorium ternyata bekerja di pabrik yang membuat krim dokter yang aku pakai dan mengatakan kalau krim tersebut mengandung steroid. Hiks.

Pertengahan 2017 aku stop semua produk skincare dari dokter dan mulai tertarik dengan skincare Korea karena beberapa kali coba pakai terasa cocok. Aku mulai belajar membaca komposisi produk dan mempelajari fungsi setiap step skincare. Tapi sekali lagi, aku menggunakannya too much, sehingga akhirnya terjadi over eksfoliasi. Kulitku menipis, sensitif dan berakhir dermatitis, tepatnya sebopsoriasis. Cerita lengkapnya bisa kamu baca dibawah ini,

Baca juga : Gejala Psoriasis, Sebopsoriasis

Perjalanan menemukan skincare natural-organik

Kulit normalku dulu sebelum mencoba banyak skincare cukup "bandel". Reaksinya cuma 2 saat mencoba skincare, kasih efek oke atau nggak kasih efek apa-apa jika tidak cocok. Kalau sekarang setelah menggunakan skincare natural-organik dan merubah pola hidup lebih berkesadaran, setiap mencoba skincare konvensional kulitku "protes" dalam bentuk gatal atau iritasi. Alhamdulillah si kulit sudah punya batasan mana yang bisa dan nggak bisa diterimanya lagi.

Aku bukan pakar dibidang skincare, hanya mencoba sharing pengalamanku hijrah ke skincare natural-organik. Tentunya kali ini dengan riset yang cukup panjang. Berawal dari join grup whatsapp HBC sejak 2016, mengikuti akun instagramnya Mba Dewina @hellomissbunny hingga mendapat materi tentang skincare organik dari Bude Maya founder Skintegrity lewat sharing grup whatsapp.

Perbedaan skincare konvensional, clean, natural dan organik

Perbedaan skincare itu terletak tidak hanya dari komposisi bahannya, tapi juga proses pembuatannya. Skincare pun punya level keamanan yang bisa Kamu pilih. Dari piramida level skincare dibawah ini bisa dilihat jenis paling bawah adalah yang affordable, banyak dan mudah didapat hingga paling atas yang ketersediaanya terbatas dan mahal harganya.

a. Konvensional skincare (drugstore)

Skincare jenis ini bisa dengan mudah kamu temukan di supermarket, minimarket maupun online shop. Saranku pilih skincare konvensional yang memiliki nomor BPOM untuk menjamin kandungan didalamnya masih masuk dosis aman yang diperbolehkan. Aku pribadi sejak sembuh dari dermatitis sudah nggak mau lagi menggunakan jenis skincare ini. Lebih baik menghindari daripada eksimku kambuh lagi. Kelebihannya skincare ini terjangkau dan akses mendapatkannya sangat mudah.

b. Clean skincare

Perlu digarisbawahi bahwa klaim clean skincare ini ada standarnya biarpun belum resmi diakui dunia. Untuk clean skincare bisa mengacu pada standar GOOP yang menerapkan penggunaan bahan yang tidak berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup namun tidak harus bahan natural. Sebagai perbandingan, standar BPOM masih memperbolehkan penggunaan paraben dalam dosis tertentu tapi dalam standar GOOP, paraben dilarang. 

Kategori clean skincare ini memiliki arti bebas "harsh chemical" yang bisa jadi masih mengandung bahan kimia sintesis lain. Beberapa yang dilarang dalam standar GOOP adalah bahan turunan hewan, formaldehide, BHT/BHA, paraben, phthalate, PEG, ethanolamine, chemical sunscreen, synthetic fragrance, PFAS, triclosan dan banyak lagi.

Cara lain yang bisa dipercaya untuk melihat kurasi apakah produk yang kamu pakai termasuk kategori clean adalah dengan melihat apakah produk tersebut cukup aman dalam ingredient score di website ewg.org. Kamu bisa mengecek produk yang kamu pakai dan melihat score setiap bahan apakah termasuk high, moderate atau low dari segi penyebab kanker, alergi, toxicity, dan batas penggunaan. Kurasi EWG ini dilakukan oleh tim professional yang meneliti produk tersebut sebelum memberikan klaim #EWGverified

c. Natural & organik skincare

Label skincare organik dari ECOCERT

Patokanku memilih skincare sekarang adalah harus aman dan halal tentunya. Skincare pilihanku aku usahakan mencari yang mengacu pada standar ECOCERT. ECOCERT ini lembaga sertifikasi organik yang didirikan di Perancis dengan wilayah operasi mencakup 130 negara. ECOCERT ini memberikan sertifikasi banyak produk seperti skincare, agriculture, textile, cleaning product, home fragrance dan banyak lagi. Standar ECOCERT untuk skincare dan kosmetik organik disebut COSMO (COSmetic Organic Standard) dengan ketentuan yang dapat Kamu lihat pada list dibawah ini :
  1. Proses produksi ramah lingkungan dan kesehatan manusia
  2. Penggunaan sumber daya alam yang bertanggungjawab
  3. Respect of biodiversity
  4. Tidak ada bahan petrokimia (paraben, phenoxyethanol, parfum, perwarna sintetik)
  5. Non-GMO
  6. Kemasan dapat didaur-ulang
  7. Air dan mineral tidak dianggap organik karena bukan berasal dari pertanian
  8. Produk tidak mengandung PEG/PPG, polysorbate (tween), glycol (ethylene glycol, propylene glycol, silicone, dimethicone, paraben, formaldehyde dan turunannya (DMDM hydantoin, quaternium-15, urea), sulfate (SLS, SLES, dll), hydrogenated oil, phthalate, BHT, BTMS, emulsifying wax, cetrimonium chloride.
Sependek pemahamanku, perbedaan antara natural skincare dan organik skincare ada pada persen jumlah bahan organik yang dikandungnya. Untuk label organik skincare 99% bahan yang digunakan (di luar air) berasal dari natural origin yang mana minimal 95% bahan baku tanaman yang digunakan dari sumber yang tersertifikasi organik. Untuk label natural skincare minimal 50% menggunakan bahan dasar tumbuhan dan minimal 5% dari berat total bahan harus berasal dari pertanian organik.
KLAIM ORGANIK HARUS DISERTAI DENGAN SERTIFIKAT ORGANIK. Jadi bukan asal klaim ajaya Bun. Pastikan skincare organik yang Kamu beli memiliki sertifikat organik bukan sekedar klaim saja. 

Selalu baca INCI pada label kemasan

INCI adalah International Nomenclature of Cosmetic Ingredients yaitu penamaan sistematis yang diakui secara internasional untuk mengidentifikasi bahan pada skincare atau kosmetik. Dibuat oleh International Nomenclature Committee (INC), dipublikasikan oleh Personal Care Product Council (PCPC) dalam International Cosmetic Ingredient Dictionary and Handbook. Tersedia dalam bentuk digital berupa wINCI. Dengan adanya sistem ini, semua orang di dunia bisa mengetahui bahan apa saja yang terkandung dalam produk dengan membaca komposisi bahan pada kemasan produk. 

contoh INCI pada skincare
contoh INCI pada produk skincare

Dengan INCI ini, kita bisa melihat skincare yang kita pakai mengandung bahan berbahaya atau tidak. Ribet memang jika harus mengenali semua bahan yang boleh atau tidak pada produk. Tips lain yang bisa Kamu lakukan adalah mencari produsen yang bisa dipercaya atau pilih skincare yang memiliki label tersertifikasi.

Tips saat memilih skincare untuk kulit sensitif

Sudah pusing membaca data diatas? Atau malah jadi semangat memilih skincare untuk kulitmu? Berikut ini ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan saat memilih skincare untuk kulit sensitif :
  1. Paling minimal pilih level clean skincare. Menghitung benefit dan efek samping yang ditimbulkan, aku sangat menghindari penggunaan skincare konvensional terutama untuk wajah
  2. Hindari SLS/SLES karena sifatnya yang kasar untuk kulit
  3. Pastikan kulit selalu terhidrasi. Selain cukup konsumsi air, rutin memakai moisturizer juga akan memberikan kekuatan untuk barrier kulit.
  4. Gunakan produk dengan bahan baku seminimal mungkin. Semakin minimalis bahan pembuat skincare, semakin kecil resiko iritasinya.
  5. Hindari produk dengan kandungan fragrance, alkohol, antibakteri, paraben, retinol dan AHA.
  6. Jika memungkinkan, hindari kosmetik waterproof yang pastinya akan sulit untuk dibersihkan sehingga butuh cleanser khusus yang lebih tajam jika terkena kulit. Fyi, kosmetik waterproof itu biasanya mengandung PFAS alias bahan pembuat teflon.
  7. Kurangi penggunaan kosmetik karena biasanya kosmetik menggunakan pigmen yang beresiko memicu alergi kulit.
  8. Gunakan physical sunscreen minimal SPF 30 karena physical sunscreen hanya mengandung bahan aktif zinc oxide dan titanium dioxide yang lebih aman untuk kulit sensitif.

Pilihan Skincare untuk Kulit Sensitif dengan Dermatitis

Setelah terkena sebopsoriasis di Agustus 2020, aku mulai mencari produk skincare yang aman untuk kulitku. Awalnya aku sempat puasa skincare sangkin takutnya mulai pakai skincare lagi. Cuma pakai body butter Yagi Natural untuk seluruh tubuh dan wajah dan sabun khusus psoriasis untuk facial wash. Baru akhir april 2021 aku memberanikan diri mencoba skincare lagi. Sampai saat aku update lagi artikel ini di Mei 2023, deretan skincareku sudah panjang seperti dulu. Hehe #ngggakbisalepasskincare.

Aku bukan crazy rich yang bisa beli skincare organik semaunya, tapi menurutku pilihan skincareku saat ini sudah aman untuk kulit dan kantongku. Seenggaknya setiap olas-oles skincare nggak ada rasa khawatir dengan efek sampingnya munculnya eksimku karena inshaallah pilihan skincareku ini halal dan thayyib.

1. Facial wash - Le Peche Mignon dari JNSQ


Aku mengikuti instagram owner @jnsq.id yaitu @hellomissbunny sejak 2016. Jadi aku melihat banget perjalanan, kredibilitas dan kualitas produk JNSQ itu kayak apa. Untuk urusan sabun anak, sampo, sampai parfum, JNSQ adalah andalanku. Untuk sampo dan parfumnya aku bahas di artikel terpisah ya nanti. 

Klaim JNSQ itu biodegradable dan natural derived ingredient, plant based serta no animal tested. Selain bahan yang digunakan aman, aroma JNSQ itu menggunakan essential oil asli. Khan maen... Yang tahu harga essential oil asli mari tepuk tangan. Jadi aroma produk-produknya itu nggak akan Kamu temukan dipasaran karena blendingnya beda banget sama kebanyakan aroma skincare yang beredar.

Le peche mignon ini favorit banyak orang tapi bukan favoritku. Aromanya campuran rose dan geranium. Tapi feel abis cuci muka pakai cleanser ini mewah dan menenangkan memang, tekstur kulit muka juga jadi enakeun. Trus irit banget! Untuk mukaku yang lebar cuma butuh dua tetes aja. Hal yang aku notice dari produk JNSQ ini selalu memberikan informasi apakah produknya aman atau tidak untuk bumil dan busui. Fyi, tidak semua essential oil aman untuk bumil dan busui ya manteman.

2. Essence, serum, pelembab, sunscreen - Skintegrity


Kenapa skintegrity? Lagi-lagi karena aku mengikuti perjalanan ownernya mba Maya @organicskincareformulator.id sehingga tahu kualitas dan kredibilitas produknya seperti apa. Muantep lho nggak kaleng-kaleng hasilnya. Dan yang terpenting produknya clean, natural dan bahan bakunya punya sertifikat cosmos organik dari ECOCERT tapi harganya affordable. Cry nggak tuh :')

Produk @skintegrity.id yang aku pakai ada 5 jenis. Jadi skincareku lumayan variatif cuma nggak semua dipakai barengan seperti saat dulu pakai skincare ala Korea yang 10 step sekali pakai. Aku bahas satu-satu ya...
  1. Calm & glow balancing moisturizer untuk pelembab pagi. Secara tekstur aku lebih suka pelembab yang ini dibandingkan dengan pelembab malam. Baunya seger dan dipakainya gampang untuk blending dan menyerapnya.
  2. Nourish & glow moisturizer untuk pelembab malam. Secara terktur pelembab ini lebih berat dan greasy tapi kusuka hasilnya setelah bangun pagi tuh kulit kenyal dan lembut banget.
  3. Hydrating flower essence toner. Biasanya aku pakai kalau sedang males skincarean atau sedang buru-buru atau saat wajah terasa kering jadi tinggal semprot beres. Wangi jasminenya enak banget dan efek hidrasinya itu mantuliti #love
  4. Brightening booster serum. Di awal keluarnya aku agak underestimated serum ini bisa mencerahkan sekaligus memudarkan dark spot. Mikirnya produk organik nggak akan sekuat itu. Cuma karena sekarang patokanku beli skincare itu spesifikasinya dulu, yowis beli. Yang penting aman dulu, masalah glowing atau nggak gimana ntar. Eh ternyata kalau formulasi dan bahan bakunya oke, hasilnya pun akan seoke itu. Tanteku yang aku racuni produk skintegrity aja, udah repurchase yang ke sekian kali karena jatuh cinta sama serumnya. Serum ini aku pakai sebelum pelembab malam.
  5. Daily mineral sunscreen. Akhirnya formulasi terbaru sunscreen skintegrity enakeun dipakainya. Soalnya formulasi sebelumnya lumayan sulit diratakan di wajah. Dibuat dengan natural zinc oxide dan natural titanium dioxide yang COSMOS approved plus proteksi terhadap bluelight. Termasuk jenis mineral sunscreen yang aman untuk orang dengan kulit sensitif. Asiknya lagi sunscreen ini memberi efek tone up jadi setelah pakai muka tuh jadi lebih cakep. Aku pakai sunscreen ini setelah pakai pelembab pagi.

3. Multipurpose oil - Mantra oil dari Trelawney


Aku cinta banget sama aroma minyak ini. Multipurpose oil ini biasanya aku pakai setelah eksfoliasi wajah atau saat butuh kelembaban ekstra, saat terkena luka bakar atau percikan minyak. Iyap, oil ini bisa banget bantu penyembuhan luka jadi lebih cepat dan tanpa bekas. 

Aku kenal salah satu owner @trelawneynatural yaitu Mba @nabilaabul dari Mba Dewina. Aku bersyukur banget sih bisa kenal orang-orang hebat dibalik produk-produk keren seperti ini. Sejujurnya aku kurang bisa percaya dengan klaim iklan jaman sekarang. Banyak banget yang hanya mementingkan profit dibandingkan efek samping yang ditimbulkan untuk customer. Banyak klaim clean, natural ataupun organik yang abal-abal karena ya nggak semua orang juga paham spesifikasinya seperti apa. Dengan kenal sama ownernya, aku bisa tahu visi, misi dan prinsipnya dalam menciptakan produk.

4. Body scrub & Body butter - Yagi Natural

Sebagai pecinta kopi dan cokelat, body scrub cocoa coffee scrub @yagi.forest ini sungguh memanjakan hidungku. Produk ini emulsified sehingga mudah larut di air biarpun menggunakan minyak kelapa dan minyak zaitun. Nggak ada minyak yang tertinggal di badan setelah dibilas dengan air. Trus ya, ini tuh irit dipakainya. Entah karena aku nggak serajin itu luluran tapi memang pakainya sedikit aja cukup. 

Lagi dan lagi aku kenal founder Yagi yaitu Mba Dara @ffarhaniza karena satu grup whatsapp HBC jadi aku yakin dengan produk yang beliau produksi. Yang bikin bangga, produk lokal ini dibuat di Aceh dengan mementingkan sustainability, enviromental dan forest friendly. Sudah pasti ya menggunakan bahan yang natural approved ingredient.
Yagi Body Butter Lavender
Untuk bagian yang sangat kering seperti jari-jari, sikut, bibir, telapak tangan aku pakai Body butter lavendernya Yagi. Baunya enak, butternya cepat melt jadi gampang diaplikasikan. Butter penyelamat saat eksimku meradang. Foto yang aku tampilkan ini adalah kemasan lama karena memang produknya belum habis. Nanti kalau sudah beli produk kemasan baru, akan aku update lagi ya disini.

5. Body lotion - Hydrating body lotion dari Sensatia botanical 

Sensatia botanicals adalah brand lokal dengan klaim natural yang bermarkas di Bali. Produk ini diklaim clean dan natural tapi belum memiliki label ECOCERT. Rata-rata produknya bebas dari harsh chemical, fragrance free, vegan, halal, bumil busui friendly. Aku nggak mengenal founder produk ini secara personal tapi Kamu bisa mencari tahu tentang brand ini di @sensatiabotanicals. Aku memilih produk ini karena harganya yang affordable, aromanya yang enak dan teksturnya nyaman saat diaplikasikan. 

5. Breast oil - Kencana bodyworks


Last but not least, breast oil dari @kencana.bodyworks yang dibuat sama Mba @ditakencana. Sebenarnya produk ini untuk para pejuang ASI. Cuma karena aku merasa payudara itu aset yang perlu dijaga dan belum ada produk lain yang aku percaya untuk merawatnya. Yowis aku pakai produk ini aja. Sudah nanya ke Mba Dita dan boleh kok produk ini dipakai daily. Produk ini dibuat dengan formula essential oil khusus untuk bagian kelenjar payudara. Mba Dita ini tersertifikasi dalam dunia essential oil jadi aku percaya produknya nggak asal blending dan klaim ini itu. Iyes, aku mengikuti instagram Mba Dita dan sering membaca wejangannya di grup whatsapp terkait tumbuh kembang anak. 

Sekian ceritaku tentang rekomendasi skincare untuk kulit sensitifku. Semoga artikel ini bermanfaat untuk yang membaca. Jika ada pertanyaan atau mau sharing seputar pengalaman sesama pemilik dermatitis, kutunggu curhatmu di kolom komentar ya. Salam hangat :)

Diupdate : 28 Mei 2023

Sumber :

  1. webmd.com
  2. definition of sensitive skin
  3. pom.go.id
  4. fda.gov
  5. ecocert.com
  6. personalcarecouncil.org